Senin, 27 April 2009

Akankah Musik Sunda Kembali Berjaya?

HAJAT Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2008 telah lama usai. Akan tetapi, saat kampanye berlangsung, untuk pertama kalinya membawa musik pop Sunda kembali populer dan dijadikan alat kampanye bagi kandidat gubernur. Ketiga calon selalu menghadirkan penyanyi-penyanyi daerah untuk memeriahkan panggung kampanye. Apakah hal ini membawa angin segar bagi eksistensi musik pop Sunda di tanah Pasundan? Bagaimana tanggapan para musisi daerah mengenai hal ini?

Darso

Darso adalah salah seorang tokoh lagu-lagu Sunda. Ajang kampanye, bukan sekadar untuk mengais rezeki, tetapi lebih penting adalah sarana untuk mengukur sejauh mana masyarakat mampu menyerap buah karyanya dan meramal karya seperti apa yang harus diciptakan selanjutnya untuk merebut hati masyarakat.

"Soal uang nomor dua, keuntungan utama adalah menyebarkan musik Sunda dan meninjau masyarakat sukanya lagu apa, lirik Sunda seperti apa yang mereka sukai," kata Darso di Tasikmalaya, beberapa waktu lalu.

Kala itu selain ingin bermasyarakat dengan warga Jawa Barat, Darso menyanggupi tawaran salah seorang calon untuk berkeliling Jawa Barat karena ingin memperjuangkan kembali eksistensi musik Priangan. "Akan tetapi saya embung nyanyi lagu kampanye. Saya selalu membawakan lagu saya sendiri. Lagu Sunda untuk menyenangkan masyarakat," kata penyanyi hits pop Sunda "Lagu Sarboah", "Cucu Deui", dan "Maripi" ini.

Darso menilai, musik Sunda saat ini dalam kondisi goncang karena gempuran musik modern yang mengadopsi budaya Barat. "Butuh kreativitas dan kejelian membaca selera untuk merebut hati masyarakat," kata dia.

Variasi, menurut pemilik label Asep Darso Production ini, adalah salah satu cara untuk membuat musik Sunda kembali menjadi primadona di Jabar. Hal itu pula yang membuat dia setia menyelipkan unsur calung dalam rekaman setiap albumnya. "Musik Sunda bisa saja jadi raja di Jabar, tetapi harus ada variasi dan ikuti kemauan masyarakat. Jangan slow atau cengeng terus, harus ada penambahan aksesoris. Unsur kebudayaan asli Sunda tak boleh hilang. Jadikan sebagai aksesoris. Dan variasi jangan disamakan dengan merusak tetapi sebagai aksesoris karena zaman sudah lain," ucap Darso yang album "Kabogoh Jauh"-nya berhasil meraup angka 200.000 keping.

Resep lain yang diandalkannya untuk tetap bertahan dengan kesundaannya, adalah menuangkan kejadian sehari-hari ke dalam lirik dan nada yang mudah dicerna masyarakat, khususnya masyarakat menengah ke bawah yang jadi bidikannya. "Ajang kampanye harus dimanfaatkan untuk merebut pasar menengah ke bawah di tiap daerah. Lagu "Dadali Mantik", "Randa Geulis", "Panganten Anyar" bisa dicerna masyarakat dengan baik," kata Darso.

Dia juga sangat berharap dukungan pemerintah untuk menjaga kelestarian musik tradisional di setiap daerah, termasuk musik Sunda dengan membuat peraturan yang mengharuskan pemberian waktu untuk musik Sunda pada setiap perayaan.

"Biasanya kan pejabat atau perayaan masyarakat menyewa band atau dangdut. Cobalah pakai musik Sunda. Akan lebih baik kalau ada peraturan dari Disbudpar Jabar. Kalau tidak diatur susah. Tiap hajat kasih setengah atau satu jam untuk pencak atau musik Sunda. Kalau tak dikasih ruang bisa punah. Propaganda politik juga bagus buat penyebaran musik Sunda. Koordinator harus berpikir ke arah sana," ujar Darso mantap.

Rika Rafika

BAGI penyanyi pop Sunda Rika Rafika, perhelatan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Barat yang digelar beberapa waktu lalu, untuk pertama kalinya ia menerima berkah. Bagaimana tidak, ia menjadi salah satu penyanyi yang diajak untuk menghibur massa kampanye salah satu kandidat gubernur. Tentu saja Rika menyanyikan tembang pop Sunda andalannya.

Menurut perempuan kelahiran Bandung 17 Januari 1979 ini, ajang pilgub mengantarkan musik pop Sunda kembali populer. "Pandangan saya pribadi sih, menjadikan pop Sunda sebagai salah satu alat kampanye cukup efektif. Karena kampanye ini kan roadshow ke seluruh daerah-daerah Jawa Barat dan dihadiri masyarakat yang memang mengonsumsi lagu-lagu Sunda," ungkap Rika yang ditemui di salah satu cafe di Jln. Aceh, Bandung, baru-baru ini.

Rika senang saat berdendang di panggung, massa yang hadir turut larut dan ikut menyanyikan tembang-tembang yang dibawakannya. Tak jarang mereka langsung meminta lagu yang ingin didengarkan. Rika pun mengombinasikannya dengan lagu-lagu dangdut nasional. "Tak bisa dipungkiri, lagu dangdut kan lagu rakyat juga," ujar Rika yang baru saja merilis album ketiganya yang bertajuk "Rujak Cuka".

Rika yang juga menjadi presenter "Dalinding Asih" di Bandung TV ini berpendapat mengenai eksistensi musik Sunda di tanah Parahyangan yang sedikit terpinggirkan. "Dulu, media massa yang menyiarkan musik Sunda tidak terlalu banyak. Artis-artisnya walaupun sedikit, tetapi berkualitas. Saat ini, media massa lokal kalah oleh media massa nasional. Selain itu, alat rekam sudah digital, jadi banyak penyanyi yang kurang berkualitas, asal keluar album saja," tutur ibu dari satu putra ini.

Kehadiran stasiun televisi lokal cukup membawa angin segar bagi musik daerah seperti pop Sunda. Mereka memiliki porsi untuk menayangkan program yang memutar lagu-lagu Sunda. Secara rutin mereka menayangkan video klip dan siaran interaktif dengan pemirsanya.

"Saya memiliki misi untuk membawa musik pop Sunda ke kancah nasional. Tidak dipandang sebelah mata dan tidak selalu dianggap musik murahan," ucap Rika dengan logat Sundanya yang kental. (Arif Budi Kristanto/Windy Eka Pramudya)***

1 Comment:

  1. M.K. Burhan said...
    Ass Wr Wb. Menurut saya, jayanya musik sunda tergantung kita, tentu orang sunda sendiri. Saya terkadang punya lamunan bikin gebrakan khsusus bagaimana agar musik sunda bisa mendunia. Pengalaman saya ketika jadi Atase Penerangan di KBRI Tokyo, Jepang, kedutaan sering menampilkan acara budaya bangsa ini, tentu tidak hanya sunda. Cuma yang saya tahu, kenapa Bali begitu agresif dibanding pronvinsi lain. Untuk ini, saya hanya punya modal gagasan ide untuk mengembangkannya. Mudah-mudahan ada sponsor yang bisa meralisasikan gagasan ini secara budaya maupun secara bisnis. Jayalah Musik dan Budaya Sunda. Tks. Wass Wr Wb.

Post a Comment